Showing posts with label Indah Soekotjo. Show all posts
Showing posts with label Indah Soekotjo. Show all posts

Saturday, April 4, 2015

Saya dan Secangkir Teh



FILOSOFI SECANGKIR TEH


Penahkah terfikirkan akan hidup?

Sesuatu yang kita jalani setiap detiknya ini. atau mungkin sesuatu yang terus menerus secara sadar maupun tidak kita nikmati, kita caci, maki, puji, jauhi, dekati. meskipun tanpa sadar, kita tak pernah mengerti betul apa itu hidup dan kehidupannya.

Banyak para falsafat, dokter, doktor, ahli sastra bahkan penulis ataupun motivator ikut serta dalam mendefinisikan arti hidup. yang kemudian muncul adalah arti hidup yang tak pernah salah dan mengundang komentar ‘iya ya’ atau ‘wah gue banget’. tapi sadarkah kita bahwa mereka yang mampu mendefinisikan sesuatu yang mereka sebut dengan ‘hidup’ adalah argumen dari sudut pandang mereka sendiri. hanya mereka. dan sesuai dengan pengalaman mereka. kita yang kebetulan ‘pernah’ mengalaminya tentu saja berkata ‘wah bener!’ ketika suatu teori dikumandangkan dan sesuai dengan bagian hidup kita.

Dan mungkin ini pun jelas menurut pandangan saya. hidup yang kita jalani ini sebetulnya lucu. mengapa tidak. kita yang terlahir dan telah disandingakan dengan 1 kata ini bahkan belum paham betul mengenainya. jika setiap orang di dunia ini diberi waktu 30 menit bersamaan untuk mendefinisikan arti hidup maka sebanyak jumlah manusia itulah definisi tentang hidup. karena hidup tak pernah memberikan arti akan dirinya sendiri kepada siapapun. ia menantang setiap individu untuk menemukan arti tentangnya sesuai pengalaman dan kesenangannya sendiri. betapa baik kan hidup ini?

Manusia itu bagaikan secangkir teh, dengan campuran gula manis dan sedikit teh yang pahit maka terwujudlah secangkir Air yang manis dan berbau harum.


Dari awal kita menyeduh teh, mengaduknya, mencium aromanya, hingga akhirnya meminumnya. Dari situ ada beberapa tahapan yang terkadang kita anggap sambil lalu. Sebenarnya perlu kita coba untuk merasakan setiap bagian dari rangkaian proses tersebut hingga akhirnya kita meminumnya.

Melalui filosofi ini, sangat simpel mengajarkan tentang bagaimana kita bisa menikmati kehidupan yang kita miliki. Terkadang memang sangat banyak hal yang kita pikirkan hingga kita sering luput dari hal-hal yang sesungguhnya penting dan berharga.

Manusia yang pasti mempunyai kebaikan dan kekhilafan itulah yang dinamakan manusia, jika tanpa kekhilafan itu namanya bukan manusia tapi malaikat. Dalam membuat teh jangan dikasih teh terlalu banyak, cukup sedikit saja, karena kalau kebanyakan akan berasa pahit dan tidak ada satupun manusia yang mau meminumnya, begitu juga kita sebagai manusia jika terlalu banyak sifat2 buruk yang ada dalam diri kita, maka banyak orang yang membenci kita bahkan meninggalkan kita, dalam membuat teh kita sebaiknya jangan mencelupkan teh yang sudah dipakai ke dalam air gulanya karena rasanya akan tidak enak, begitu juga manusia jangan mengulang kesalahan yang sama dan selalu belajar dari kesalahan kita sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi


Rangkaian kehidupan ibarat kita sedang menyediakan secangkir teh. Semua hal yang kita lalui adalah proses. Dan dalam proses inilah, banyak hal yang sebenarnya dapat menjadi pelajaran bagi kita. 

Filosofi ini menunjukkan pada kita tentang bagaimana kita menghargai sebuah kehidupan. Kenapa teh? meminum teh dapat dibilang sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang simpel yang terkadang kita kurang mendalami maknanya.

Bagi saya, hidup bagaikan secangkir teh. mengapa? di dunia yang jumlah manusianya mencapai 7,2 milyar lebih jiwa ini belum tentu setiap indvidunya menyukai teh. dan orang-orang yang termasuk penyuka teh-pun belum tentu menyukai 1 jenis teh yang sama. lalu untuk 1 jenis teh yang sama pun dapat dinikmati dengan berbagai suhu yang beragam. lalu tingkatan suhu yang sama pun akan dinikmati dalam waktu yang berbeda tiap individunya. dan waktu yang sama untuk jenis dan suhu yang sama pun belum tentu dinikmati dengan ‘teman’ teh yang sama.seperti; gula putih, gula merah, madu, gula batu. dan ini layaknya hidup. setiap individu bebas menentukan arah dan alur hidupnya sendiri sesuai dengan apa yang ia ingini dan senangi, menjelaskan hidup ini adalah pilihan seperti halnya sebuah teh.

Oh iya.. selain sebagai filosofi, Teh juga mempunyai Ragam Tradisi cara minumnya lho dari berbagai negara..

Silahkan dilihat di Blog berikut;

http://indahsoekotjo.blogspot.com/2015/04/ragam-tradisi-minum-teh-di-dunia-bag-1.html





Thursday, April 2, 2015

Saya dan Jingle Lagu Butik Saya

Artikel ini di terbitkan di rubrik Mulut ke Mulut dari Majalah Jakarta - Jakarta yang tahun persisnya saya lupa, sekitar 1986.


Saya dan Majalah Puteri

Artikel Saya di Majalah Puteri



Majalah Puteri terbit di era 70 an, tepatnya saya lupa.
Sama seperti Majalah Remaja lainnya, saya pun berkesempatan beberapa kali menjadi Cover dan model untuk Rubrik Fashionnya.

Terima kasih Majalah Puteri.

Saya dan Majalah Gadis

Menjadi Model di Majalah Gadis

Setahun setelah Majalah Wanita Femina terbit, tepatnya tahun 1973, terbit majalah Gadis yang masih satu kelompok usaha dengan Femina. Majalah ini dicetuskan oleh Pia Alisjahbana, istri Sofyan Alisjahbana. 

Ditahun tersebut 1973 disuatu acara fashion show remaja untuk organisasi yang dikelola oleh Ibu saya, saya dihampiri oleh seorang wanita cantik dan enerjik bernama Mbak Inna Hadad beliau adalah talents dari Majalah Gadis, majalah untuk para remaja puteri yang pertama kali terbit di Indonesia.

Seingat saya inilah pembicaraan saya dengan Mbak Inna Hadad;

IH : Namamu Indah Soekotjo ya?

IS : Iya Bu.. maaf dengan Ibu siapa ya?

IH : Jangan panggil Bu…panggil saya kak Inna atau Mbak Inna…saya talents dari Majalah Gadis,ka,u tahu kan majalah Gadis yang baru saja terbit 2 kali ini (dulu majalah Gadis terbit sebulan sekali)

IS : Ooh..iya..iya…saya suka baca majalah Gadis bagus banget Mbak.

IH : Nah…itu dia biar tambah bagus kamu mau ya di foto untuk majalah Gadis!

IS : Haah… ??? (sambil melongo bengong,kaget)

IH : Haah …itu berarti mau ya….wes sesok kamu pulang sekolah jam berapa?

IS : jam..jam… 1 siang Mbak…kenapa?

IH : Lho loq kenapa? Besok di tunggu foto jam 3 di studio majalah Gadis..iki alamate yo…wes saya mau bicara sama Ibumu dulu minta ijin mau minta kamu jadi model majalah Gadis.

IS : (diam, bengong, bingung)

Akhirnya… keesokan harinya datanglah saya ke Studio foto majalah Gadis…masih bingung dan bengong tiba-tiba mbak Inna menghampiri dengan ramahnya beliau bilang wes…cepet di make up dulu, nanti kamu foto sendiri lho pakai kaos remaja produk X.

Jreeeeng…sesi pemotretan di mulai… tidak ada kesulitan apa-apa karena saya sudah terbiasa action di depan camera sewaktu menjadi bintang iklan batik sido mukti di tahun 1970 dan menari bali yang sering di shoot oleh camera TV dan para wartawan.

Soal Gaya dan pose..no problem..dasarnya saya memang senang di foto dan rada centil hehehehe…

Selesailah acara pemotretan tersebut jam 6 sore dan saya diantar pulang oleh Mbak Inna ke rumah sambil beliau ber basa-basi dahulu dengan Ibu dan papie saya.

Dan..akhirnya 1 bulan kemudian pulang sekolah saya mampir ke took buku langganan saya di Mayestik..pas lewat tukang majalah yang ada di emper depan took buku tersebutm saya kaget!!! Lho koq ada wajah saya di cover depan majalah gadis…duh..duh…maluuuu…saya langsung lari masuk ke mobil dan bilang sama supir saya untuk cepat-cepat pulang soalnya semua orang liatin saya (maklum deh masih terkejut belum pernah wajahku terpampang di majalah..mana di bagian cover) biasanya hanya berita kecil tentang aktivitas pertunjukan saya sebagai penari Bali itu piun di koran saja.

Setibanya di rumah ada paket yang berisi bukti terbit majalah yang ada foto saya tersebut..langsung saya buka…waduuuuh… gimana ini…wajah saya terpampang di mana-mana…aduuuuh…belum lagi di rubrik fashion saya bergaya dengan centilnya…waduuuuh…..

Keesokan harinya di sekolah…pada saat itu saya masih di kelas 2 SMP Negeri 13 Tirtayasa Kebayoran Baru Jakarta, pas masuk gerbang sekolah…udah bisa di bayangin kan…hamper rata-rata teman-teman heboh malah ada yang bawa majalahnya ke sekolah…udah deh panjang ceritanya.

Setelah itu setelah saya terbiasa dengan semua itu saya menikmatinya dan dunia fashion adalah bagian dari dunia yang membesarkan saya.

Selain majalah Gadis akhirnya muncul beberapa Majalah-majalah Remaja di era tersebut dan saya berbahagia bisa menjadi model dari majalah – majalah remaja tersebut.

Saya dan majalah Gadis menjalin kerja sama dari Tahun 1973 sampai dengan Tahun 1981 karna di penghujung akhir tahun 1981 saya menikah.Tak terhitung berapa banyak pemotretan yang telah saya lalui bersama Majalah Gadis baik sebagai Cover majalah maupun di rubrik fashionnya.

Sayang banyak arsip foto dan majalah hilang dari dokumentasi saya…sehingga saya hanya memiliki beberapa saja.





Dari Dunia Fashion dan Models saya belajar banyak tentang segala hal dalam kehidupan saya yang utama saya telah belajar pengembangan diri.

Dari Dunia Fashion dan Models saya juga belajar Personal Branding.

Terima kasih Majalah Gadis, terima kasih Mbak Inna hadad.

Wednesday, March 4, 2015

Little Happines

http://ananditapuspita.blogspot.com/2012/01/enam-kali-pertemuan-bersama-ibu-indah.html

enam kali pertemuan bersama ibu Indah Soekotjo



lupa tepatnya tanggal berapa,

yan pasti sehabis pekan ujian tengah semester.



mata kuliah kapita selekta , berganti dosen pengajar.



senin pertama habis ujian tengah semester , untuk memasuki kelas kapita selekta masih berleyeh leyeh karena dapat info dari teman yang kelas sebelumnya bahwa hari itu sedang tidak ada dosen.



kelas dimulai pukul satu siang, karna aku dan beberapa teman menunda masuk, akhirnya kami masuk kelas pukul setengah dua siang.



buka pintu kelas. dan jujur kaget.

sudah ada dosen di dalam kelas.



apa yang ada di pikiranku saat melihat ibu dosen yang baru aku lihat pertama kali?


KEREN


ternyata beliau adalah ibu Indah Soekotjo,
banyak yang bercerita menyenangkannya diajar oleh beliau, ada yang bilang juga kalo mam Indah itu galak.



tapi pandangan pertamaku tentang beliau, beliau keren, fashionable.



setelah kelas berjalan hari itu, saat hampir mengakhiri kelas Mam bilang kepada semua siswa "siapa yang mau jadi ketua kelas?"



rasa ingin yang besar ada saat beliau melemparkan pertanyaan itu, mau tunjuk tangan pun ragu.
tapi entah kenapa disitu aku punya keyakinan. bahwa aku bisa banyak belajar dan bisa banyak berubah dari setiap ilmu yang aku dapat dari ibu dosen ini.
dengan keberanian, akupun tunjuk tangan dan bilang "saya mam, saya mau jadi ketua kelas"


rasa gak percaya bisa bilang seperti itu.

karena aku punya keyakinan beliau orang hebat.

dan aku akan belajar banyak dari beliau untuk menjadi pribadi yang hebat



selepas kelas,

sesampainya dirumah.

aku langsung googling.

penasaran siapa sih mam Indah itu.



menemukan blog-nya beliau.

ku baca , dan tulisannya bagus sekali.



dan beliau juga seorang designer. yaa fashion designer

sempet mikir juga "pantes ya baju sama tasnya matching banget"


KAGUM sekali dengan beliau.



sampai aku pun bercerita tentang beliau kepada ibuku.




senin menuju senin lagi,

beberapa senin di lalui

banyak ilmu yang di dapat,

aku tak pernah mencatat semua apa yang beliau bilang,

tapi aku selalu merekam semua perkataan beliau di tab.

setiap pulang kuliah, rekaman itu.aku putar ulang lagi..

sungguh aku banyak belajar dari beliau



sampai pada akhirnya di pertemuan terakhir.
aku sanggat ingin menghentikan senin itu.
sedih..



setiap orang ada yang datang dan pergi, tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dari setiap pertemuannya



aku minta foto bersama dengan beliau di pertemuan terakhir itu.

aaaaaah airmata sempat hampir keluar.



terimakasih ibu Indah Soekotjo

sungguh bahagia Tuhan mempertemukan aku denganmu



semoga masih ada kesempatan baik yang lain untuk bisa bertemu lagi.

mohon maaf juga. jika saya ada kekurangan dan ada salah dalam tutur kata dan perbuatan.



sukses selalu Ibu Indah Soekotjo.

Ditulis Oleh:

Mantan Mahasiswaku di Blognya

http://ananditapuspita.blogspot.com

pada Senin 16 Januari 2012




 

Saya dan Dunia Pendidikan

Touch Down 1989



Saya pertama kali mengajar di Indonesia sebagai Pengajar/Instruktur, Dosen adalah di tahun 1989 di sebuah lembaga pendidikan ternama di Jakarta di era 80 an tersebut.Dan mengajar itu sebenarnya bukanlah cita-cita saya…dan juga merupakan suatu kebetulan menurut saya pada saat itu.


Ini kisahku:

Di Tahun 1987 saya mendapat undangan sebagai pembicara konferensi studi banding di Singapore…tiba-tiba setelah selesai seminar tersebut datanglah seorang Pria yang familiar wajahnya tapi saya lupa dimana pernah berjumpa.

Inilah kata-kata beliau “Mbak Indah Soekotjo…? Yang model majalah Gadis tahun 70 an ya? Yang pernah belajar kursus Interior Disain ya…? Lalu Beliau menyebutkan nama Lembaga kursus tersebut, masih di sambung lagi dengan rentetan kalimat …dulu kalau kursus pengajarnya datang terlambat..mbak Indah selalu bolak-balik ke sekretariat menanyakan kapan pengajarnya datang? Koq telat sih?


Antara kaget, bingung dan terpana dengan rentetan pertanyaan tersebut lalu saya menjawab…koq Bapak bisa tahu itu semua…? Bapak orang Indonesia ya? Lalu jawaban Beliau iya dong Indonesia banget, lupa ya dengan saya? Kata Beliau…lalu Beliau menyebutkan namanya. Tetaplah saya masih bingung… Begitu Beliau menyebutkan nama kecilnya….wualaaaaaah… langsung saya berteriak memanggil nama kecil Beliau…karna kaget dan tidak menyangka bahwa diantara peserta seminar ada mantan pengajar saya.


Lalu kita terlibat percakapan yang cukup panjang lebar di luar ruang seminar…dan akhirnya Beliau mengatkan hal ini “Mbak…ngajar ya di Lembaga saya…karna Lembaga saya butuh materi yang mbak presentasikan tadi. Entah mengapa saya menjawab..siap membantu.


Setelah pertemuan itu sekitar 2 bulan kemudian Beliau menelepon saya dan mengundang saya berkunjung ke Lembaga kursusnya yg salah satunya berada di Hotel Berbintang di daerah Sudirman Jakarta.


Janji tinggal janji…saya sibuk dengan aktivitas saya sebagai pembicara dari kota ke kota dari negara ke negara sehingga saya tidak sempat berkunjung ke lembaga tersebut hingga akhirnya di tahun 1989 tanpa sengaja kita berjumpa lagi di suatu acara Konferensi Pendidikan di Kuala Lumpur,lalu Beliau sang Bapak Direktur dan yang empunya Lembaga tersebut mengingatkan janji temu kita 2 tahun yang lalu.



Akhirnya di hari Sabtu bulan April Tahun 1989 saya berkunjung ke Lembaga Kursus tersebut…kebetulan Beliau sedang ada meeting di luar sebentar..saya masuk ke ruang kursus tersebut lalu disambut dengan ramahnya oleh dua orang wanita cantik yang bekerja di situ sebagai sekretariat dan admin.


Nah…ini dia yang serunya… Mbak sekretariat tersebut tiba-tiba dengan keramahannya menyodorkan kertas yang berisi jadual saya mengajar…gubraaaak… kagetlah saya membaca jadual tersebut…pertanyaan saya…saya mengajar?  Aduuuuh… bagaimana mungkin? …. Bagamana bisa…? Terus gimana saya bicara di depan orang yang sama setiap minggunya bertemu…aduuuh…duh…duuuh… ini salah alamat …saya kan pembicara seminar bukan pengajar…saya juga masih sibuk jadi Public Relations dan Fashion Design Consultant..aaagh…pusing deh…begitu kata saya.


Tak lama kemudian Bapak Drektur tersebut datang dan…bujukan dan wejangan Bapak Direktur Lembaga Kursus tersebut mempan banget deh..Beliau bilang “Mbak…ngajar itu ibadah” tuing…tuing…tuing… saya berpikir oh gitu ya saya bisa beribadah di dunia ngajar…oke deh coba-coba dulu jadi pengajar…kalau 3 bulan gak betah…bubar barisan balik ke habitat saya di dunia fashion saja.


Dua bulan pertama adalah masa saya riset dan memperhatikan bagaimana praktek mengajar di sebuah lembaga di Indonesia…setiap kelas saya masuk sebagai silent student…saya catat cara – cara para pengajar mengajar.


Hmmmm…. Akhirnya saya mengambil keputusan saya mengajar with my own style with my own character… dan jadilah saya mengajar sesuai denga style saya.


Tiga bulan pertama…saya masih bimbang mau benar-benar terjun bebas sebagai pengajar dan dosen atau just only for fun and go whenever saya bosan.Tapi Papie saya memberi wejangan “You can not eat a cake and have a cake in the same time”. Dalem banget ini artinya. Hidup selalu membuat keputusan dan pada saat keputusan di buat harus totalitas  dan professional.


Singkat cerita setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang amat sangat cukup matang,dunia pendidikan menjadi pilihan tugas saya sebagai Indah Soekotjo di bumi ini.


Tanpa terasa perjalanan karir saya sebagai pengajar/dosen sudah 26 tahun terhitung dari tahun  1989,dan menjadi pembicara serta trainer sudah memasuki 28 tahun sejak 1987.


Apa yang saya dapatkan? Iya jelas selain sisi materi saya mendapatkan ilmu setiap harinya…karna semua mahasiswa dan peserta pelatihan adalah buku pembelajaran saya lebih tepatnya buku hidup saya.


Terima Kasih Alm.Bapak Toto Ariyanto yang telah memberi kesempatan saya berbagi ilmu di Lembaga Pendidikan yang dikelolanya.

Terima kasih Alam Semesta yang telah dan selalu memberikan ‘guide’ nya dalam perjalanan karir saya di dunia pendidikan.